Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 September 2012

Beberapa Manfaat Buah Pisang Bagi Kesehatan


  • Sumber Kekuatan Tenaga
Buah pisang dengan mudah dapat dicerna, gula yang terdapat di buah tersebut diubah menjadi sumber tenaga yang bagus secara cepat, dan itu bagus dalam pembentukan tubuh, untuk kerja otot, dan sangat bagus untuk menghilangkan rasa lelah.
  • Manfaat Buah Pisang Untuk Ibu Hamil
Pisang juga disarankan untuk dikonsumsi para wanita hamil karena mengandung asam folat, yang mudah diserap janin melalui rahim. Namun, jangan terlalu berlebihan, sebab satu buah pisang sudah mengandung sekitar 85-100 kalori.

Sabtu, 28 Juli 2012

Cara Radiasi Membunuh Anda



Seandainya penjahat meledakkan senjata nuklir, apa yang akan terjadi pada manusia? Kota mati Chernobyl, Ukraina Utara bisa menjadi gambaran keganasan ancaman nuklir. 

Dosis besar radiasi nuklir dalam jangka pendek bisa menyebabkan Sindrom Radiasi Akut (ARS) atau keracunan radiasi.

Keganasan gejala ARS ini tergantung tingkat paparan yang mengenai Anda. Cara mengukur dosis radiasi ini bisa menggunakan satuan unit Grays (Gy). Rata-rata paparan radiasi selama beberapa detik dari pemeriksaan dengan sinar X yakni 0,0014 Gy. Ini termasuk dosis rendah yang disarankan.
 

Senin, 11 Juni 2012

Molekul Ajaib Pada Susu dan Bir


Para ilmuwan mengklaim telah menemukan suatu molekul ajaib tersembunyi di beberapa jenis makanan yang dapat membuat sesorang lebih kuat, ramping dan sehat.  Molekul tersembunyi yang ditemukan dalam susu dan juga mungkin ada dalam bir serta beberapa makanan ini tidak memiliki efek samping, dan diklaim bisa memperpanjang usia harapan hidup.

Kamis, 17 Mei 2012

10 Hormon Terpenting dalam Tubuh


1. Melatonin
Hormon ini diproduksi di kelenjar pineal dan berfungsi sebagai antioksidan dan mengntrol tidur. Meskipun hormon diproduksi secara alami oleh tubuh, kelebihan maupun kekurangan hormone dapat berakibat buruk bagi tubuh. Kelebihan hormon ini dapat menyebabkan lesu, gangguan hati, gangguan mata, kelelahan, disorientasi pikiran dan perilaku psikotik, kebingungan, mengantuk, gangguan berbicara, gemetar, sakit kepala dan pusing. Kekurangan hormon melatonin akan menyebabkan kesulitan tidur atau insomnia, tidur tidak nyenyak, pembesaran prostat, depresi, kelelahan, siklus haid tidak teratur, gelisah, sindrom premenstruasi (PMS), katarak, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung (aritma).

Selasa, 08 Mei 2012

10 Penyakit Aneh yang Diderita oleh Manusia

1. Trichotillomania
Penyakit ini terbilang aneh untuk dipahami. Orang yang mamiliki penyakit ini memiliki dorongan untuk menarik rambut hingga rontok, termasuk rambut tubuh, rambut kepala, jenggot, bulu mata, rambut hidung, atau alis. Kondisi ini kemungkinan akibat adanya kelainan serotonin dan dopamin.

Minggu, 29 April 2012

Advokat Buat Awet Muda


Penelitian terbaru menunjukkan bahwa avokad bisa menjadi senjata untuk melawan penuaan dan penyakit lainnya.
Para peneliti di Mexican University telah menemukan bahwa minyak yang terdapat dalam avokad memiliki sifat anti penuaan seperti yang terkandung dalam minyak zaitun, dan berpotensi digunakan untuk melawan kanker dan penyakit jantung.

Rabu, 25 April 2012

Gen Baru Ditemukan Menyumbang Pada Autisme, Berkaitan dengan Penyakit Jiwa


Rabu, 25 April 2012 - Sebuah pendekatan baru untuk menyelidiki ketaknormalan kromosom yang sulit ditemukan telah menemukan 33 gen yang berasosiasi dengan autisme dan gangguan terkait, 22 diantaranya baru. Beberapa gen ini tampaknya berubah dalam cara berbeda pada individu dengan gangguan jiwa seperti schizofrenia, gejala yang dapat berawal di masa remaja atau dewasa.


“Dengan membariskan genom sekelompok anak dengan ketaknormalan perkembangan syaraf, termasuk autisme, yang juga dikenal sebagai ketaknormalan kromosom, kami menemukan titik pasti dimana untai DNA terganggu dan segmen tertukar di dalam atau antar kromosom. Sebagai hasilnya, kami mampu menemukan sederetan gen yang memiliki dampak individual kuat pada gangguan ini,” kata James Gusella, PhD, direktur Pusat Penelitian Genetika Manusia Rumah Sakit Umum Massachusetts (MGH CHGR) dan pengarang senior makalah Cell. “Kami juga menemukan kalau banyak gen ini berperan dalam berbagai situasi klinis – dari catat intelektual parah hingga schizofrenia muncul dewasa – membawa pada kesimpulan kalau gen-gen ini sangat sensitif bahkan pada gangguan kecil sekalipun.”

Jumat, 20 April 2012

Tanpa Kompetisi Katak di Sulawesi Berevolusi dengan Cepat


Senin, 16 April 2012 - Para ilmuan dipimpin oleh Ben Evans dari Universitas McMaster telah mendokumentasikan evolusi cepat spesies katak bertaring baru di pulau Sulawesi, dekat Philipina.


Tim ini menemukan 13 spesies katak taring di pulau tersebut, Sembilan diantaranya belum pernah diidentifikasi sebelumnya. Spesies ini berbeda dalam ukuran tubuh, jumlah selaput di kakinya, dan bagaimana mereka membesarkan anak – semua sejalan dengan tuntutan niche ekologi mereka yang berbeda. Sulawesi memiliki jumlah spesies katak taring yang sama seperti di kepulauan Philipina.
“Kami menduga memperoleh lebih banyak spesies di wilayah kepulauan karena ia jauh lebih luas, namun ini ternyata tidak terbukti,” kata Evans.
 Mengapa ada keanekaragaman hayati yang tinggi pada pulau yang kecil? Tidak adanya kompetisi di Sulawesi, kata para peneliti. Katak taring di Philipina harus berkompetisi dengan genus katak lainnya, Platymantis. Platymantis tidak pernah sampai ke Sulawesi, membuat katak taring bebas menyebar ke habitat baru, dimana mereka kemudian beradaptasi. Evolusi cepat katak ini adalah contoh mengagumkan dari radiasi adaptif – sebuah konsep yang dijelaskan Charles Darwin untuk kasus finch Galapagos.
Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal American Naturalist.
Sumber berita:
Referensi jurnal:
Mohammad I. Setiadi, Jimmy A. McGuire, Rafe M. Brown, Mohammad Zubairi, Djoko T. Iskandar, Noviar Andayani, Jatna Supriatna, Ben J. Evans. Adaptive Radiation and Ecological Opportunity in Sulawesi and Philippine Fanged Frog (Limnonectes) Communities. The American Naturalist, 2011; 178 (2): 221 DOI: 10.1086/660830